Kamis, 18 Agustus 2011

harmony in diversity

HARMONY IN DIVERSITY

Harmony in diversity bisa juga diartikan sebagai bhinneka tunggal ika. Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Keberanekaragaman itu juga bisa dilihat dari mahasiswa baru yang masuk di universitas Brawijaya.Mereka berasal dari bermacam-macam daerah , tapi pada acara ospek ini mereka dipersatukan untuk lebih mnegenal satu dengan lainnya ,dan lebih memahami perbedaan mereka masing-masing.

Kita tidak melupakan Indonesia lahir dari perbedaan. Indonesia yang terdiri dari 525 etnis yang tersebar di seluruh pulau di Nusantara. Bahkan dari 6000 bahasa yang di Dunia 1000 diantaranya terdapat di Papua (termasuk Papua New Guenea) yang bisa dikelompokkan dalam 300 jenis bahasa. Tidak hanya itu berbagai kepercayaan terhadap Tuhan yang maha Esa melengkapi perbedaan yang ada di Indonesia. Hal ini dilihat bahwa sampai saat ini terdapat 6 agama yang berkembang. Dilihat dari geopoltik Indonesia, yang merupakan Negara kepulauan tidaklah heran bahwa hal itu menjadi salah satu penyebab berbedaan itu tetap abadi. Ada 2 hal yang harus kita pikirkan, apakah ini menjadi sebuah kebanggaan atau malah ini merupakan musibah?

Tentu kita mengingat bahwa bersatunya Indonesia tidak terlepas dari berbagai gesekan-gesekan antar etnitas maupun antar kepercayaan kepada Tuhan dalam hal ini adalah keagamaan. Permasalahan klasik yang timbul sejak awal kemerdekaan bahkan sejak jaman penjajahan belanda menjadi suatu bahan refleksi yang harus kita renungkan bersama. Sebut saja kerusuha yang dilatarbelakangi oleh kecemburuan etnis China (Thionghoa). Di jawa barat pada tahun 1963, kemudian 1970. Di jawa tengah 1980 adalah segulung benang kusut tentang konflik antara perbedaan tersebut, termasuk pada mei 1998 di Jakarta. Tidak hanya itu di kalimantan barat kerusuhan antara etnik dayak dan Madura yang terjadi mulai taun 1930-an, yang kemudian berkembang menjadi konflik etnik melayu yang sempat menyebar sampai ke Kalimantan tengah. Konflik bernuansa agama terjadi di poso. Bahkan saat ini, issue keagamaan semakin cepat mendapat reaksi dan dukungan sehingga bisa terjadi mobilitas vertical dan horizontal. Penyerangan terhadap ahmadiyah, RUU Anti pornografi dan Pornoaksi (APP), Perda bernuansa Syariat Islam yang tidak kalah menariknya adalah soal polligami, semuanya ditarik pada persoalan agama (achmad suhawi : 2009). Perlu kita sadari juga bahwa heterogenitas, keberagaman budaya sosio-kultur, termasuk keagamaan yang kita wariskan adalah sebuah anugrah dan keunikan dari bangsa Indonesia. Tidaklah elok jika saat ini masalah-masalah masih mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini.

Bangsa Indonesia di tengah-tengah perbedaan menyadari perlunya sebuah wadah yang bisa mempersatukan itu semua. Ir. Soekarno, bapak proklamator dan sekaligus presiden Pertama Republik Indonesia, menggali Pancasila dari sebuah konsepsi gotong royong. Karena gotong royong sangat kental dengan kebudayaan yang ada di tengah-tengah masayarakat. Karena pada hakikatnya gotong royong merupakan semangat, bekerjasama, hidup dalam kebersamaan dan saling tolong-menolong. Gotong royong ini kemudian dijabarkan kedalam kelima sila pada Pancasila semuanya menitik pada satu titik yaitu toleransi. Ketuhanan Yang Maha Esa mewadahi semua agama dan kepercayaan yang ada. Persatuan dan kemanusiaan adalah satu bentuk rasa saling memiliki dan mencintai tanah air. Permusyaawaratan dan keadilan social merupakan suatu untuk kebebasan dalam politik maupun ekonomi yang berlandaskan keadilan sosial, semua untuk semua.

Bhineka Tunggal Ika, itu kata yag tertuliskan di kaki burung garuda yang merupakan lambang dari Pancasila. Bhineka Tunggal Ika yang terdapat dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular mempunyai arti yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Yang jika kita renunggkan memiliki makna walaupun Indonesia terdiri dari berbagai ras, suku, agama, bahasa, adat, kebudayaan dan lainnya, tapi tetap dalam satu keatuan angsa dan Negara, satu tanah air. Semua itu dipersatukan dengan bendera merah putih, lagu Indonesia raya, bahasa Indonesia, mata uang, dan pancasila.

Maka dari semua itu hendaklah kita saling toleransi terhadap perbedaan itu, karena itu adalah sebuah keunikan dan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia. Hidup dalam kebersamaan dan gotong royong untuk kekuatan bangsa. Toleransi dan gotong royong harus kita implementasi dalam kehidupan, saling tolong menolong antar sesama dan menghargai sebuah perbedaan. Niscaya kesejahteraan dan keadilan sosial dapat kita capai.

Made Dina Budiastuti

Arbil Hewler

Kelompok 8

Pengikut